whatsapp: +62851-0461-2299
close
Beranda / Cerita Pasien

SHELLY MAHARA DIVONIS KANKER OVARIUM USIA 18 TAHUN

None

Date:2020-05-20Author:NoneFrom:FUDA

s1.jpg

Jika biasanya kanker ovarium menghampiri perempuan memasuki masa menopause, apa yang terjadi pada Shelly Mahara di luar kebiasaan.

Shelly Mahara (29) berhasil mengalahkan kanker ovarium stadium empat ketika usianya masih 18 tahun. Dengan tenang ia menceritakan perjalanan saat iya mulai mengalami kejanggalan di tubuhnya. “Awalnya saya tidak tahu kalau kena kanker dan sudah masuk stadium empat. Mama berusaha menutupinya,” kata Shelly

Saat itu keluhannya hanya tidak nafsu makan dan tenggorokannya seperti radang. Ibunya pun langsung membawa Ma Yen Li (sapaan akrab) berobat ke dokter THT. Di sana dokter mengatakan kalau itu radang biasa. Dokter pun memberikan obat radang tenggorokan. Tapi ketika obatnya habis, Shelly kembali ke keluhan awal. Akhirnya ibu Shelly, Lim Su Tjun, membawa anak bungsunya itu ke dokter umum.

Seperti biasa dokter mendengarkan ritme jantung Shelly melalui stetoskop yang ditempelkan di dada. Belum ada kejanggalan, sampai ketika perutnya diperiksa, dan dokter bertanya kenapa perut Shelly keras.

s3.jpg

Shelly Mahara (paling kanan) menyampaikan kisah inspiratifnya mengalahkan kanker ovarium pada usia 18 tahun

“Saya bilang, sudah dua hari ini belum buang air besar, Dok. Dokter mengangguk pelan sambil terus menekan-nekan perut saya, ia semakin curiga ketika memeriksa bagian kiri bawah perut. Rasanya kaku, persis seperti batu. “Ini rasanya butuh di-USG untuk mencari tahu kenapa keras begini,” kata Shelly menirukan ucapan dokternya ketika itu.

Ketika dilakukan USG, dokter menemukan ternyata ada daging tumbuh di indung telur Shelly. Ibu Selly kurang yakin dengan hasil pemeriksaan dokter tersebut lalu mencari pendapat lain, keluarga membawa Shelly berobat ke Penang, Malaysia.

Mereka bertemu tiga dokter sekaligus. Diagnnosisnya sama, daging tumbuh biasa dan hanya butuh dioperasi. “Kemudian saya setuju untuk operasi. Saya mikirnya, biar cepat selesai saja. Kebetulan waktu itu sudah kelas tiga SMU jadi mulai memikirkan ujian nasional,” tutur Shelly.

Shelly kembali pulang ke Binjai, perutnya terus saja membesar, persis orang yang sedang hamil tua. Perut buncit itu membuatnya tak hanya sulit bergerak, tapi juga sesak napas. Dia semakin bertanya-tanya ada apa gerangan pada tubuhnya.

Selang beberapa hari, seorang sahabat ibu Shelly Lo Ayi datang menjenguk. Lo Ayi kaget saat melihat perut Shelly membuncit dan mengeras. Ibu Shelly langsung menarik Lo Ayi keluar kamarnya. Di luar perbincangan serius pun berlangsung, sedangkan Shelly hanya hisa terdiam di kamarnya.

Setelah Lo Ayi berkunjung, Shelly mulai mendengar orangtuanya berbicara rencana berobat ke Guangzhou, Tiongkok. Mereka menyebut satu rumah sakit yang katanya biasa menangani tumor. Banyak orang Medan dan Binjai yang berobat tumor ke sana.

Orangtua Shelly sempat ragu untuk membawa putrinya ke Tiongkok karena Ibu Shelly tidak bisa berbahasa Mandarin, sedangkan ayahnya, Robert, yang bisa berbahasa Mandarin tak dapat mendampinginya karena darah tingginya akan naik karena stres menemani anaknya yang sakit.

Akhirnya diputuskan yang pergi menemani Shelly berobat ke Guangzhou adalah ibunya dan Lo Ayi. Tidak banyak yang dipersiapkan. Mereka sampai memutuskan mengurus visa di bandara saja. Betul sekali, mereka mengandalkan visa on arrival untuk berobat.

Ia kemudian menjalani pengobatan di FUDA Cancer Hospital dan dalam waktu dua minggu terapi ia sudah merasakan banyak perubahan. Saat ini sudah 10 tahun ia dinyatakan bebas kanker. “Di FUDA saya menjalani terapi dengan cryotherapy atau disebut juga cryotherapy. Ini adalah terapi menggunakan suhu dingin yang ekstrim yang dihasilkan oleh nitrogen cair (atau gas argon) untuk menghancurkan jaringan sel-sel kanker,” paparnya.

s4.jpg

Shelly Mahara bersama President FUDA Cancer Hospital Prof Niu Lizhi

Awalnya cryosurgery digunakan untuk terapi kanker kulit, tetapi saat ini cryosurgery digunakan untuk mengobati berbagai jenis kanker, di mana nitrogen cair dipaparkan langsung ke sel-sel kanker. Setelah jaringan sel kanker rusak baru diangkat melalui operasi.

President FUDA Cancer Hospital Prof. Niu Lizhi, memaparkan tentang hidup sehat untuk mencegah penyakit kanker dan pengobatan kanker terbaru. Angka harapan hidup manusia normal adalah 120 tahun.

“Tetapi umumnya sulit untuk mencapai usia 120 tahun karena manusia mengidap banyak penyakit dan mengalami komplikasi yang mempersingkat hidupnya. Salah satunya kanker, penyakit yang paling berpengaruh pada usia hidup manusia,” jelas Prof. Niu Lizhi.



  • Irreversible Electroporati..
  • Argon- Helium Cryoablasi..
  • Transarteri Kemoterapi Int..
  • Combined Immunoterapi Untu..
  • Brachyterapi..
  • Photodynamic Terapi (PDT)..
  • Microwave Hiperthermia..
Dokter Lainnya
  • Prof. Niu Lizhi...

  • RS Khusus Kanker Nasional
  • Bersertifikasi Internasional JCI
  • Pusat Cryoablasi Kanker Asia- Pasifik
  • Pusat Medis, Institut Biomedis dan Kesehatan Guangzhou, Akademik Ilmu Pengetahuan di Tiongkok